Sejarah Desa Selokajang

 

PROFIL DESA

DESA SELOKAJANG
KECAMATAN SRENGAT KABUPATEN BLITAR

1. Sejarah Desa
Sejarah Desa Selokajang tidak terlepas dari sejarah Masyarakat Selokajang di Kabupaten Blitar. Desa ini awalnya berupa pekarangan (dalam bahasa Jawa di sebut Tegal) yang ramai di kunjungi orang dari berbagai daerah untuk membuka lahan perkebunan, saat membajak pekarangan tersebut salah satu orang menemukan tumpukan batu-batu yang berbentuk alas tidur/bantal yang pernah dipakai untuk tidur oleh orang bernama Ki Ageng Selo. Cerita secara turun temurun menyebutkan bahwa Desa Selokajang didirikan oleh Ki Ageng Selo yang sedang mengembara bersama prajurit dari Kerajaan Surakarta Solo akibat runtuhnya kerajaan menuju ke Jawa Timur sehingga menjadi ramai (dalam bahasa Jawa di sebut Kajang), yang lama kelamaan semakin berkembang menjadi besar maka dari itu menjadi pekarangan yang ramai (dalam bahasa Jawa di sebut Selokajang)sehingga terbentuklah sebuah desa. Sejak saat itu di sebutlah Desa Selokajang sampai sekarang.
Sejak berdiri tahun 1647 sampai dengan saat ini desa Selokajang dipimpin oleh :
Nur Hasan (tahun 1850 s.d 1875) meninggal dunia, Ali Hasan (tahun 1875 s.d 1900) meninggal dunia, Ki Demang (tahun 1900 s.d 1938) meninggal dunia.
Adapun kepala desa yang pernah menjabat hingga sekarang adalah sebagai beriikut:
Kaderi (tahun 1938 s.d 1968) meninggal dunia, Warsidi (tahun 1968 s.d 1976) meninggal dunia, Sobari Marwoto (tahun 1980 s.d tahun 1992) meninggal dunia, Sodiq (tahun 1993 s.d 2001) meninggal dunia, Sarjuni (tahun 2001 s.d 2013) dan Danuri (tahun 2014 s.d sekarang).
2. Sejarah Pemerintahan Desa
Sebagai desa di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia Desa Selokajang sebagaimana desa-desa yang lain disekitarnya adalah merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Srengat. Adapun secara ringkas kondisi pemerintah desa dapat di rinci:
a. Sebelum UU.No.5 Tahun 1979 Tentang Desa, Pada Saat itu Pemerintahan Desa Memakai tradisi kuno dengan sebutan terhadap petugas desa sebagai Lurah, Carik, Kamituwo, Kebayan, Jogotirto, Jogoboyo dan Modin.
b. Adanya UU.No 5 Tahun 1979 Banyak perubahan terjadi pada
struktur Pemerintah Desa yang secara Nasional desa-desa di Indonesia diseragamkan, sebutan pamong desa dikenal dengan perangkat desa yang antara lain perubahan nama-nama jabatan Kepala Desa (Masa jabatan 8 tahun), Sekretaris Desa, Kepala Urusan dan Kepala Dusun sampai sekarang ini. Sedangkan lembaga legislatif adalah lembaga Musyawarah Desa (LMD).
c. Desa berdasarkan UU.Nomor 5 Tahun 1999 Hal yang menonjol
pada masa ini, adalah Jabatan kepala desa menjadi 2 Kali 5 tahun atau 10 (sepuluh) tahun. Sedangkan Legislatif pada Era ini adalah Badan Perwakilan Desa (BPD).
d. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Masa jabatan Kepala desa
menjadi 6 tahun, dan Sekretaris Desa diisi dari pegawai negeri sipil yang ada di Kabupaten/Kota. Sedangkan BPD beralih menjadi Badan Permusyawaratan Desa.
e. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Masa
jabatan Kepala desa menjadi 6 tahun, dan Sekretaris Desa diisi dari pegawai negeri sipil yang ada di Kabupaten/Kota. Sedangkan BPD beralih menjadi Badan Permusyawaratan Desa.
3. Kepemimpinan Desa
Masa orde lama: Kondisi pemerintah desa pada saat itu masih sangat sederhana, baik dalam menyangkut program-program maupun personal perangkat desanya yang pada saat itu dikenal dengan sebutan Pamong desa atau Bebau desa dengan rata-rata berpendidikan sekolah rakyat(S.R). Kepemimpinan Desa (Kepala Desa) yang tercatat mulai, pada zaman kemerdekaan adalah; KARNADI, KADERI.
Masa Orde Baru: Desa Selokajang dalam pemerintahan Orde Baru diisi oleh 6 orang Kepala Desa masing-masing WARSIDI (tahun1968 s.d 1976) SOBARI MARWOTO menjabat mulai (tahun 1980s.d1992) SODIQ menjabat mulai (tahun 1993 s.d 2001) SARJUNI menjabat mulai (tahun2001 s.d 2013) yang kemudian digantikan oleh DANURI mulai pada 2013 sampai sekarang.

4. Pembangunan Desa
Kebijakan pembagunan desa yang menyolok pada saat pemerintahan orde baru adalah sangat ditentukan oleh swadaya kemandirian masyarakat warga desa yang di dukung adanya dana subsidi Pemerintah Pusat yang setiap tahun diberikan. Berbeda dengan sekarang dengan adanya UU Nomor 33 Tahun 2004 yang mengatur keseimbangan keuanganan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, desa mendapatkan kucuran Dana ADD. Bagian dari DAU Pemerintah Kabupaten dari Pemerintah Pusat.
5. Kondisi Geografis
Secara geografis Desa Selokajang terletak pada posisi 7°21′-7°31′ Lintang Selatan dan 110°10′-111°40′ Bujur Timur. Topografi desa ini adalah berupa dataran rendah dengan ketinggianya itu sekitar 300 m diatas permukaan air laut. Letak Desa Selokajang berada diantara 3 desa lain yang juga masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Adapun batas desa tersebut adalah:
1. Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Purwokerto Kec Srengat
2. SebelahTimur berbatasan dengan : Desa Ngaglik Kec. Srengat
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan: Sungai brantas/ Kab. Tulungagung.
4. Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Kandangan Kec.Srengat.
Desa Selokajang merupakan wilayah yang terdiri dari pemukiman penduduk, tanah tegalan, perkebunan rakyat, lahan persawahan dengan luas wilayah desa 504.762 Ha. Dimana seluas 56.185 Ha adalah pemukiman penduduk dan sisanya adalah lahan kering & area persawahan. Wilayah desa Selokajang sungai Brantas sepanjang 2 km. Iklim Desa Selokajang berdasarkan data BPS kabupaten Blitar tahun 2013, selama tahun 2013 curah hujan di Desa Selokajang rata-rata mencapai 2.400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama kurun waktu 2014-2019.
a. Jarak desa ke ibukota Kecamatan = 6 Km
b.
c. Waktu tempuh ke Kecamatan
Jarak tempuh ke ibukota Kabupaten =
= 20 Menit
35 Km
d.
e. Waktu tempuh ke kabupaten
Ketersediaan angkutan umum =
= 60 Menit
Tersedia setiap hari.

6. Kondisi Demografis
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2019, jumlah penduduk Desa Selokajang adalah terdiri dari 2376 KK, dengan jumlah total 6612 jiwa, dengan rincian 3.309 laki-laki dan 3.303 perempuan sesuai dengan data Tabel berikut ini :

I. EKONOMI MASYARAKAT
A. Pekerjaan
1. Penduduk usia 18-56 tahun yang masih sekolah dan tidak bekerja 1188 orang
2. Penduduk usia 18-56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga 708 orang
3. Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja penuh 1305 orang
4. Penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja tidak tentu 645 orang
5. Penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan tidak bekerja 39 orang
6. Penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan bekerja 65 orang

B. Kesejahteraan Keluarga
1. Jumlah keluarga prasejahtera 1437 Keluarga
2. Jumlah keluarga sejahtera 1 202 Keluarga
3. Jumlah keluarga sejahtera 2 148 Keluarga
4. Jumlah keluarga sejahtera 3 81 Keluarga
5. Jumlah keluarga sejahtera 3 plus 69 Keluarga
6. Total jumlah kepala keluarga 1937 Keluarga

II. PENDAPATAN PERKAPITA
A. Pendapatan perkapita menurut sektor usaha

A.1. Pertanian
1. Jumlah rumah tangga 400 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 1200 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 750 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 2250 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 150.000

A.2. Perkebunan
1. Jumlah rumah tangga 1007 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 3021 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 25 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 75 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 300.000

A.3. Peternakan
1. Jumlah rumah tangga 63 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 189 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 102 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 306 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 90.000

A.4. Perikanan
1. Jumlah rumah tangga 21 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 63 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 21 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 63 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 180.000

A.5. Kerajinan
1. Jumlah rumah tangga 18 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 54 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 31 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 93 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 180.000

A.6. Pertambangan
1. Jumlah rumah tangga 10 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 30 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 16 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 48 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 300.000

A.7. Kehutanan
1. Jumlah rumah tangga 30 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 90 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 30 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 90 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 180.000

A.8. Industri kecil, menengah dan besar
1. Jumlah rumah tangga 240 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 720 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 640 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 1920 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 180.000

A.9. Jasa dan perdagangan
1. Jumlah rumah tangga 424 Keluarga
2. Jumlah total anggota rumah tangga 1272 orang
3. Jumlah rumah tangga buruh tani 640 Keluarga
4. Jumlah anggota rumah tangga buruh 1920 orang
5. Jumlah pendapatan perkapita setiap rumah tangga Rp 120.000
B. PENDAPATAN RILL KELUARGA
Jumlah Kepala Keluarga 2131 KK
Jumlah Anggota Keluarga 6743 orang
Jumlah Pendapatan Kepala Keluarga Rp 149.170.000
Jumlah pendapatan dari anggota keluarga yang bekerjaRp 141.610.000

III. STRUKTUR MATA PENCAHARIAN MENURUT SEKTOR
1. Sektor Pertanian
Petani 22 orang
Buruh Tani 950 orang
Pemilik Usaha Tani 750 orang

2. Sektor Perkebunan
Karyawan Perusahaan Perkebunan 1007 orang
Buruh perkebunan 25 orang
Pemilik usaha Perkebunan 0 orang

3. Sektor Peternakan
Peternakan Perorangan 63 orang
Buruh Usaha Peternakan 102 orang
Pemilik Usaha Peternakan 63 orang

4. Sektor Perikanan
Nelayan 21 orang
Buruh Usaha Perikanan 21 orang
Pemilik Usaha Perikanan 0 orang

5. Sektor Kehutanan
Pengumpul Hasil Hutan Orang
Buruh Usaha Pengolahan Hasil Hutan Orang
Pemilik Usaha Pengolahan Hasil Hutan Orang

6. Sektor Pertambangan dan Bahan Galian C
Penambang Galian C Perorangan 10 orang
Buruh Usaha Pertambangan 48 orang
Pemilik Usaha Pertambangan 0 orang

7. Sektor Industri Kecil & Kerajinan Rumah Tangga

8. Sektor Industri Menengah dan Besar
Karyawan perusahaan swasta 29 orang
Pemilik perusahaan 3 orang

9. Sektor Perdagangan
Karyawan Perdagangan Hasil Bumi 10 orang
Buruh Perdagangan Hasil Bumi 65 orang
Pengusaha Perdagangan Hasil Bumi 35 orang

10. Sektor Jasa
TNI 8 orang
POLRI 6 orang
Perawat swasta 2 orang
Seniman/artis 32 orang
Sopir 19 orang
Usaha jasa pengerah tenaga kerja 1 orang
Wiraswasta lainnya 1240 orang
Tidak mempunyai mata pencaharian tetap 1490 orang

IV. PENGUASAAN ASET EKONOMI MASYARAKAT
A. ASET TANAH
Tidak memiliki tanah 3952 orang
Memiliki tanah antara 0,1-0,2 ha 808 orang
Memiliki tanah antara 0,21-0,3 ha 845 orang
Memiliki tanah antara 0,31-0,4 ha 309 orang
Memiliki tanah antara 0,41-0,5 ha 212 orang
Memiliki tanah antara 0,51-0,6 ha 115 orang
Memiliki tanah antara 0,61-0,7 ha 203 orang
Memiliki tanah antara 0,71-0,8 ha 76 orang
Memiliki tanah antara 0,81-0,9 ha 91 orang
Memiliki tanah antara 0,91-1,0 ha 84 orang
Memiliki tanah antara 1,0 – 5,0 ha 24 orang
memiliki tanah antara 5,0 – 10 ha 9 orang
Memiliki tanah lebih dari 10 ha 5 orang
Jumlah total penduduk 0 orang

B. ASET PERUMAHAN RUMAH MENURUT DINDING
Tembok 1812 rumah
Kayu 4 rumah

B.1. RUMAH MENURUT LANTAI
Keramik 852 rumah
Semen 1172 rumah
Tanah 5 rumah

B.2. RUMAH MENURUT ATAP
Genteng 1812 rumah
Asbes 9 rumah

V. PEMILIKAN ASET EKONOMI LAINNYA
Jumlah keluarga memiliki TV dan elektronik lainnya 2120 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki sepeda motor/sejenisnya 2130 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki mobil dansejenisnya 196 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki ternak kecil 311 Keluarga
Jumlah keluarga yang memiliki hiasan emas/berlian 998 Keluarga
Jumlah keluarga yang memiliki buku tabungan bank 610 Keluarga
Jumlah keluarga yang memiliki sertifikat deposito 2 Keluarga
Jumlah keluarga yang memiliki sertifikat tanah 462 Keluarga
Jumlah keluarga yang memiliki sertifikat bangunan 124 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki usaha perikanan 19 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki usaha peternakan 115 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki usaha perkebunan 10 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki usaha di pasar tradisional 5 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki usaha transportasi/pengangkutan 4 Keluarga
VI. PENDIDIKAN MASYARAKAT
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat SDM (Sumber Daya Manusia) yang dapat berpengaruh dalam jangka panjang pada peningkatan perekonomian. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan masyarakat yang pada gilirannya akan mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan dan lapangan kerja baru,sehingga akan membantu program pemerintah dalam mengentaskan pengangguran dan kemiskinan.
A. Tingkat Pendidikan Penduduk

Jumlah penduduk buta aksara dan huruf latin 132 orang
Jumlah penduduk usia 3-6 tahun yang masuk TK dan Kelompok Bermain Anak 89 orang
Jumlah anak dan penduduk cacat fisik dan mental 63 orang
Jumlah penduduk sedang SD/sederajat 270 orang
Jumlah penduduk tamat SD/sederajat 187 orang
Jumlah penduduk tidak tamat SD/sederajat 259 orang
Jumlah penduduk sedang SLTP/sederajat 144 orang
Jumlah penduduk tamat SLTP/sederajat 274 orang
Jumlah penduduk sedang SLTA/sederajat 96 orang
Jumlah penduduk tidak tamat SLTP/Sederajat 22 orang
Jumlah penduduk tamat SLTA/Sederajat 201 orang
Jumlah penduduk sedang D-1 4 orang
Jumlah penduduk tamat D-1 5 orang
Jumlah penduduk sedang D-2 3 orang
Jumlah penduduk tamat D-2 5 orang
Jumlah penduduk sedang D-3 6 orang
Jumlah penduduk tamat D-3 7 orang
Jumlah penduduk sedang S-1 33 orang
Jumlah penduduk tamat S-1 35 orang
Jumlah penduduk sedang S-2 12 orang
Jumlah penduduk tamat S-2 16 orang
Jumlah penduduk tamat S-3 0 orang
Jumlah penduduk sedang SLB A 3 orang
Jumlah penduduk tamat SLB A 0 orang
Jumlah penduduk sedang SLB B 0 orang
Jumlah penduduk tamat SLB B 0 orang
Jumlah penduduk sedang SLB C 0 orang
Jumlah penduduk tamat SLB C 1 orang
Jumlah penduduk cacat fisik dan mental 63 orang

B. Wajib belajar 9 tahun
1. Jumlah penduduk usia 7-15 tahun 687 orang
2. Jumlah penduduk usia 7-15 tahun yang masih sekolah 687 orang
3. Jumlah penduduk usia 7-15 tahun yang tidak sekolah 0 orang

C. Rasio Guru dan Murid
1. Jumlah guru TK dan kelompok bermain anak 11 orang
2. Jumlah siswa TK dan kelompok bermain anak 180 orang
3. Jumlah guru SD dan sederajat 9 orang
4. Jumlah siswa SD dan sederajat 270 orang
5. Jumlah guru SLTP dan sederajat 1 orang
6. Jumlah siswa SLTP dan sederajat 40 orang
7. Jumlah guru SLTA/sederajat 0 orang
8. Jumlah siswa SLTA/sederajat 30 orang
9. Jumlah siswa SLB 0 orang
10. Jumlah guru SLB 0 orang

Dari data diatas menunjukan bahwa mayoritas penduduk Desa Selokajang hanya mampu menyelesaikan sekolah dijenjang pendidikan wajib belajar sembilan tahun (SD dan SMP). Dalam hal kesediaan sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan mumpuni, keadaan ini merupakan tantangan tersendiri. Rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Desa Selokajang tidak terlepas dari terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada, disamping tentu masalah ekonomi dan pandangan hidup masyarakat. Sarana pendidikan di Desa Selokajang baru tersedia ditingkat pendidikan dasar 9 tahun (SD dan SMP), sementara untuk pendidikan tingkat menengah keatas berada ditempat lain yang relatif jauh. Sebenarnya ada solusi yang bisa menjadi alternatif bagi persoalan rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Desa Selokajang yaitu melalui pelatihan dan kursus. Namun sarana atau lembaga ini ternyata juga belum tersedia dengan baik di Desa Selokajang Bahkan beberapa lembaga bimbingan belajar dan pelatihan yang pernah ada tidak bisa berkembang.
VII. KESEHATAN MASYARAKAT
Masalah pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga masyarakat dan merupakan hal yang penting bagi peningkatan kualitas masyarakat kedepan. Masyarakat yang produktif harus didukung oleh kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang terserang penyakit. Dari data yang ada menunjukkan adanya jumlah masyarakat yang terserang penyakit relative tinggi. Adapun penyakit yang sering diderita antara lain infeksi pernapasan akut bagian atas, malaria, penyakit system otot dan jaringan pengikat. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit yang bersifat cukup berat dan memiliki durasi lama bagi kesembuhannya, yang diantaranya disebabkan perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat. Ini tentu mengurangi daya produktifitas masyarakat Desa Selokajang secara umum. Sedangkan data orang cacat mental dan fisik juga cukup tinggi jumlahnya. Tercatat penderita bibir sumbing berjumlah 0 orang, tuna wicara 2 orang, tuna rungu 1 orang, tuna netra 0 orang, dan lumpuh 9 orang. Data ini menunjukkan masih rendahnya kualitas hidup sehat di Desa Selokajang. Hal yang perlu juga dipaparkan disini adalah terkait keikutsertaan masyarakat dalam KB. Terkait hal ini peserta KB aktif di Desa Selokajang berjumlah 672 pasangan usia subur dari jumlah Wanita Usia Subur (WUS) sebanyak 464 orang. Sedangkan jumlah bayi yang diimunisasikan dengan Polio dan DPT-1 berjumlah 298 bayi. Tingkat partisipasi demikian ini relatif tinggi walaupun masih bisa dimaksimalkan mengingat cukup tersedianya fasilitas kesehatan berupa sebuah Puskesmas, dan Polindes di Desa Selokajang Maka wajar jika ketersediaan fasilitas kesehatan yang relative lengkap ini berdampak pada kualitas kelahiran bagi bayi lahir. Dari 38 kasus bayi lahir pada tahun ini, tidak ada bayi yang tidak tertolong. Hal yang perlu juga dipaparkan disini adalah kualitas balita. Dalam hal ini, dari jumlah 298 balita ditahun ini, masih terdapat 0 balita bergizi buruk, 10 balita bergizi kurang dan lainnya sedang dan baik. Hal inilah kiranya yang perlu ditingkatkan perhatiannya agar kualitas balita Desa Selokajang kedepan lebih baik.

A. Kualitas Ibu Hamil
Jumlah ibu hamil 113 orang
Jumlah ibu hamil periksa di Posyandu 75 orang
Jumlah ibu hamil periksa di Puskesmas 20 orang
Jumlah ibu hamil periksa di Rumah Sakit 8 orang
Jumlah ibu hamil periksa di Dokter Praktek 5 orang
Jumlah ibu hamil periksa di Bidan Praktek 5 orang
Jumlah ibu hamil periksa di Dukun Terlatih 0 orang
Jumlah kematian ibu hamil 0 orang
Jumlah ibu hamil melahirkan 113 orang
Jumlah ibu nifas 113 orang
Jumlah kematian ibu nifas 0 orang
Jumlah ibu nifas hidup 113 orang

B. Kualitas Bayi
Jumlah keguguran kandungan 4 orang
Jumlah bayi lahir 113 orang
Jumlah bayi lahir mati 2 orang
Jumlah bayi lahir hidup 111 orang
Jumlah bayi mati usia 0 – 1 bulan 3 orang
Jumlah bayi mati usia 1 – 12 bulan 1 orang
Jumlah bayi lahir berat kurang dari 2,5 kg 4 orang
Jumlah bayi 0-5 tahun hidup yang menderita kelainan organ tubuh, fisik dan mental 2 orang

C. Kualitas Persalinan
C.1. Tempat Persalinan
Tempat persalinan Rumah Sakit Umum 0 unit
Tempat persalinan Rumah Bersalin 1 unit
Tempat persalinan Puskesmas 1 unit
Tempat persalinan Polindes 1 unit
Tempat persalinan Balai Kesehatan Ibu Anak 1 unit
Tempat persalinan rumah praktek bidan 1 unit
Tempat praktek dokter 0 unit
Rumah dukun 0 unit
Rumah sendiri 0 unit

C.2. Pertolongan Persalinan
Jumlah Persalinan ditolong Dokter 37 tindakan
Jumlah persalinan ditolong bidan 75 tindakan
Jumlah persalinan ditolong perawat 0 tindakan
Jumlah persalinan ditolong dukun bersalin 0 tindakan
Jumlah persalinan ditolong keluarga 1 tindakan

D. Cakupan Imunisasi
Jumlah Bayi usia 2 bulan 75 orang
Jumlah bayi 2 bulan Imunisasi DPT-1, BCG dan Polio -1 229 orang
Jumlah bayi usia 3 bulan 78 orang
Jumlah bayi 3 bulan yang imunisasi DPT-2 dan Polio-2 158 orang
Jumlah bayi usia 4 bulan 73 orang
Jumlah bayi 4 bulan yang imunisasi DPT-3 dan Polio-3 151 orang
Jumlah bayi 9 bulan 7 orang
Jumlah bayi 9 bulan yang imunisasi campak 119 orang
Jumlah bayi yang sudah imunisasi cacar 0 orang

E. Perkembangan Pasangan Usia Subur dan KB
E.1. Pasangan Usia Subur
Jumlah remaja putri usia 12 – 17 tahun 745 orang
Jumlah perempuan usia subur 15 – 49 tahun 1.225 orang
Jumlah wanita kawin muda usia kurang dari 16 tahun 26 orang
Jumlah pasangan usia subur 1.301 pasangan

E.2. Keluarga Berencana
Jumlah akseptor KB 0 orang
Jumlah pengguna alat kontrasepsi suntik 891 orang
Jumlah pengguna metode kontrasepsi spiral 520 orang
Jumlah pengguna alat kontrasepsi kondom 96 orang
Jumlah pengguna metode kontrasepsi pil 4 orang
Jumlah pengguna metode vasektomi 106 orang
Jumlah pengguna metode kontrasepsi tubektomi 6 orang
Jumlah pengguna metode KB Kelender/KB Alamiah 83 orang
Jumlah pengguna metode KB obat tradisional 0 orang
Jumlah pengguna alat kontrasepsi metode xxx 0 orang
Jumlah PUS yang tidak menggunakan metode KB 410 orang

F. Wabah Penyakit
F.1. Muntaber
Jumlah kejadian dalam 1 tahun ini 57 kejadian
Jumlah yang meninggal 0 kejadian

F.2. Demam berdarah
Jumlah kejadian dalam 1 tahun ini 3 kejadian
Jumlah yang meninggal 0 kejadian

F.3. Cikungunya
Jumlah kejadian dalam 1 tahun ini 5 kejadian
Jumlah yang meninggal 0 kejadian

G. Angka Harapan Hidup
Angka harapan hidup penduduk Desa/Kelurahan 6.733 Tahun
Angka harapan hidup penduduk Kabupaten/Kota 0 Tahun
Angka Harapan Hidup Provinsi 0 Tahun
Angka harapan Hidup Nasional 0 Tahun

H. Cakupan pemenuhan kebutuhan air bersih
1. Jumlah keluarga menggunakan sumur gali 1.380 Keluarga
2. Jumlah keluarga pelanggan PAM 0 Keluarga
3. Jumlah keluarga menggunakan Penampung Air Hujan 0 Keluarga
4. Jumlah keluarga menggunakan sumur pompa 0 Keluarga
5. Jumlah keluarga menggunakan perpipaan air kran 0 Keluarga
6. Jumlah keluarga menggunakan hidran umum 0 Keluarga
7. Jumlah keluarga menggunakan air sungai 0 Keluarga
8. Jumlah keluarga menggunakan embung 84 Keluarga
9. Jumlah keluarga yang menggunakan mata air 171 Keluarga

I. Perilaku hidup bersih dan sehat
I.1. Kebiasaan buang air besar
Jumlah keluarga memiliki WC yang sehat 1.293 Keluarga
Jumlah keluarga memiliki WC yang kurang memenuhi standar kesehatan 171 Keluarga
Jumlah keluarga biasa buang air besar di sungai/parit/kebun/hutan 31 Keluarga
Jumlah keluarga yang menggunakan fasilitas MCK umum 0 Keluarga

Dari data di atas Nampak bahwa penduduk usia produktif pada usia15-54 tahun Desa Selokajang atau hamper 65%. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM. Tingkat kemiskinan di Desa Selokajang termasuk tinggi.Dari jumlah 2306 KK di atas, sejumlah 1237 KK tercatat sebagai PraSejahtera; 329 KK tercatat Keluarga SejahteraI; 278 KK tercatat Keluarga Sejahtera II; 283 KK tercatat Keluarga Sejahtera III; 179 KK sebagai sejahtera III plus. Jika KK golongan Pra- sejahtera dan KK golongan I digolongkan sebagai KK golongan miskin, maka lebih 62.88 % KK Desa Selokajang adalah keluarga miskin.

7. Kondisi Pemerintahan Desa
7.1 Pembagian Wilayah Desa
Wilayah Desa Selokajang terdiri dari 3 Dusun yaitu: Dusun Selokajang, Dusun Maron, Dusun Ngluweng, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun. Posisi Kasun menjadi sangat strategis seiring banyaknya limpahan tugas desa kepada aparat ini. Dalam rangka memaksimalkan fungsi pelayanan terhadap masyarakat di Desa Selokajang dari ketiga dusun tersebut terbagi menjadi Dusun Maron Terbagi 2 Rukun Warga (RW) dan 9 Rukun Tetangga (RT). Dusun Selokajang Terbagi 3 Rukun Warga ( RW ) dan 16 Rukun Tetangga ( RT ) Dusun Ngluweng Terbagi 2 Rukun Warga ( RW ) dan 10 Rukun Tetangga ( RT )

8. Struktur Organisasi Pemerintah Desa
Keberadaan Rukun Tetangga (RT) sebagai bagian dari satuan wilayah pemerintahan Desa Selokajang memiliki fungsi yang sangat berarti terhadap pelayanan kepentingan masyarakat wilayah tersebut, terutama terkait hubungannya dengan pemerintahan pada level di atasnya. Dari kumpulan Rukun Tetangga inilah sebuah Padukuhan (Rukun Warga; RW) terbentuk. Sebagai sebuah desa, sudah tentu struktur kepemimpinan Desa Selokajang tidak bisa lepas dari strukur administrative pemerintahan pada level di atasnya. Lebih janjut strukur administrative pada Tabel 2.1 Pemerintahan Desa Selokajang. Nama-nama yang menjabat dalam struktur Pemerintahan Desa Selokajang disampaikan dalam Tabel 1.1 dan Tabel 1.2

Tabel 1.1 : Nama Pejabat Pemerintah Desa Selokajang

NO NAMA JABATAN
1. DANURI Kepala Desa
2. SUJARWA Sekretaris Desa
3. WASIS RIANTO Kasi Pelayanan
4. MUHAMMAD YUNIANTO Kasi Pemerintahan
5. NURYADI Kasi Kesejahteraan
6. SUSILO PRAWITO Kaur Keuangan
7. ENI SULASTRI Kaur Perencanaan
8. SUMINI Kaur TU dan Umum
9. KAMALI Kamituwo I
10. IMAM MUSTOFA Kamituwo II
11. NURKININ Kamituwo III
12. SAMSUL MUNDIR Staf Keuangan
13. ANI ASTUTI Staf Pelayanan

Tabel 1.2 : Nama Badan Permusyawaratan Desa Selokajang

NO NAMA JABATAN
1 SUPARLI Ketua
2 SRIYONO Sekretaris
3 SARWO BINEDI Bendahara
4 M.MAKIN Anggota
5 NAWIR TUKILAN Anggota
6 MU’ALIMIN Anggota
7 SUTADI Anggota
8 SUGIONO Anggota
9 MULYOTO SUNARKO Anggota
10 EDI SUSENO Anggota
11 RINAWAN Anggota

Gambar 2.1 : Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan Desa Selokajang

Gambar 2.2 : Denah Desa Selokajang